MOST RECENT

Parsel Coklat Disisipi Alat Kontrasepsi, Bukti Negara Gagal


Coklat dan makanan olahan dari coklat sering menjadi pernak-pernik dalam perayaan Valentine oleh anak-anak muda. Namun, ada yang memprihatinkan dalam perayaan Valentine, yaitu bukan hanya sekedar coklatnya, melainkan nuansa seks bebas di balik perayaan hari kasih sayang tersebut. Salah satu buktinya adalah adanya parsel coklat yang disisipi alat kontrasepsi.

Anggota Komisi X DPR, Rohmani, menyoroti masalah parsel tersebut yang ditujukan pada generasi muda yang belum menikah. Dalam pernyataannya, Rabu (15/2), ia menilai kenyataan tersebut sebagai bukti kegagalan negara menjaga identitas bangsa.

“Perilaku hubungan seks diluar nikah merupakan budaya impor. Hal ini sangat jauh dari identitas bangsa. Semua agama di negeri ini tidak membenarkan hubungan seks diluar nikah,” katanya. Di samping itu, dia mengatakan pendidikan karakter bangsa yang selama ini digembar-gemborkan pemerintah belum berhasil.

Pendidikan karakter yang dikampanyekan pemerintah, lanjutnya, seharusnya mendekatkan remaja pada budaya dan identitas bangsa. “Negara menghabiskan miliaran rupiah untuk pendidikan karakter. Namun kita tidak melihat hasilnya. Seharusnya, pendidikan karakter itu bisa menangkal budaya permisif yang datang dari barat,” kata anggota Komisi X yang membidangi masalah pendidikan, olahraga, pariwisata dan kebudayaan itu. (republika.co.id, 15/2/2012)

2/14/2012 | Posted in | Read More »

Khutbah Ramadhan dari Al Quds : Ramadhan ke-Delapan Puluh Setelah Runtuhnya Khilafah

Wahai manusia: Kita benar-benar telah kedatangan bulan suci Ramadhan al-Mubârak (yang diberkati), bulan yang membawa banyak sekali kebaikan, dan bulan yang membuat dekat kepada Tuhan Yang Maha Mulia lagi Maha Mengetahui. Namun ini tidak mengherankan, sebab bulan suci Ramadhan adalah bulan di mana pada bulan ini Allah SWT menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda .

Dengan bulan ini, kami menerima katalis bagi misi kaum Muslim untuk bersegera memperbanyak kebaikan, seperti puasa, shalat malam, dzikir, memberi makan fakir miskin, memerintahkan pada kebaikan dan melarang kemungkaran, serta melakukan kerja keras dan luas untuk mengokohkan agama Allah dengan mendirikan Negara Khilafah.

Kita telah kedatangan bulan ini sudah sembilan puluh kali, namun kita melihat keadaan yang tidak membuat senang kawan, dan tidak membuat benci lawan. Kita temukan umat bukan umat yang dikenal pada bulan kebaikan dan berkah di era Rasulullah Saw, di era para shahabat yanyg mulia semoga Allah meridhai mereka semua, di masa tabi’in, dan era siapa saja yang mengikuti mereka dengan baik selama masa Negara Islam yang agung dan mulia. Di mana mereka menyambut bulan suci Ramadhan dengan aman, tenteram dan damai. Namun kita sekarang menyambut Ramadhan benar-benar dalam suasa yang mencekam, dan diselimuti ancaman besar, lenyapnya pemerintahan yang menerapkan hukum Allah, serta hilangnya petunjuk dan sedikitnya berkah.

Kita memasuki bulan bulan puasa, namun kita melihat pelaksanaan puasa kita tidak bersatu dan teratur. Sebab, satu kaum sedang berpuasa, sementara kaum yang laim belum berpuasa, bahkan ada sejumlah orang yang terang-terangan tidak berpuasa, apakah ada yang memjatuhkan sanksi pada mereka?

Kita menyambut bulah al-Qur’an, namun kita melihat al-Qur’an justru disia-siakan, sunnah Rasulullah Saw tidak diterapkan, serta sunnah para Khalifah ar-Rasyidin dan al-Mahdiyin diganti dan dicampakkan. Hawa nafsu nasionalisme, mengejar kepentingan dan kapitalisme, serta para pemimpin idiot telah merobek kita menjadi sekitar enam puluh negara kecil yang tidak memiliki penopang kedaulatan sama sekali untuk dibanggakan. Dan kita dapati para penguasa menyia-nyiakan berbagai masalah umat, justru mereka bersekongkol, membunuh dan membantai umat.

Sebelumnya, kaum Muslim telah menyambut Ramadhan selama lebih dari seribu tiga ratus kali, di mana mereka sebagai pemimpin dunia, dan dalam berbagai bidang kehidupan kaum Muslim sebagai inovator yang tidak ada tandingannya. Mereka bersatu dalam satu negara, dan satu pemimpin, seperti bangunan yang tersusu rapi dalam berjihad di jalan Allah.

Wahai manusia: Kita menyambut Ramadhan kali ini, sedang negeri-negeri kita terjajah, tempat-tempat suci kita diijan-injak, rakyat kita tercerai-berai, generasi kita telah teracuni pemikirannya, dan kekayaan kita dijarah. Kaum kafir memasang beban pada negeri kita, menancapkan pipa pada tubuh kita, memperkuat pengaruhnya, dan memperbesar dominasinya.

Kita menyambut Ramadhan, namun kita lihat tentara kaum Muslim-yang seharusnya melindungi negeri kita, dan membawa berdera dakwah kita-justru mereka berdiam diri saja melihat rubah-rubah melakukan makar untuk memangsa kita, bahkan mereka menjadi pelindungnya, dan menjaga kepentingan-kepentingan Barat yang menjarah kekayaan kita, serta melaksanakan perintahnya agar membunuh kita, menutup mulut kita, dan menekan kita.

Kita menyambut Ramadhan, namun kita dalam menetapkan mekanisme rukyahnya, memulai puasanya, dan mengakhirinya benar-benar berbeda dan tercerai-berai. Kita memasuki Ramadhan, sementara banyak masalah menjadi pekerjaan rumah (PR)kita, rumah kita diobok-obok oleh budaya Barat, kehidupan rumah tangga kacau, angka perceraian meningkat, dan anak-anak mulai membangkang dan memberontak pada kedua orang tuanya.

Bagaimana tidak? Di mana kenekatan sebagai pengendali sikap, kesembronoan peradaban sebagai kemajuan, dan mengikuti tradisi kafir sebagai budaya! Serta pesta-pesta yang diiringi musik dengan suara keras dan petasan yang diharamkan agama terlihat di mana-mana! Bahkan ada yang lebih besar dari itu, yaitu pembantaian meraja lela. Mereka melihat ini sebagai sesuatu yang biasa, padahal di sisi Allah itu merupakan sesuatu yang besar.

Wahai manusia: Sesungguhnya ritual puasa memerintahkan kita bersatu. Rasulullah Saw bersabda: “Puasalah kalian karena melihat (hilal Ramadhan), dan berbukalah kalian karena melihat (hilal Syawal).” (HR. Muslim)

Ketahuilah, bahwa hari puasa kita satu, hari berbuka kita juga satu, hilal kita satu, dan Tuhan kita juga satu. Di mana umat akan memulai puasa pada hari yang sama, ketika melihat hilal yang sama; mereka merasa bahagia juga di hari yang sama, serta sangat bahagianya mereka ketika menjumpai Tuhannya. Kita semua harus bersatu dalam satu negara, sehingga umat tidak meninum dari cangkir-cangkir kehinaan yang disuguhkan para musuh, upaya mereka untuk menjadikan generasi kita berpikir prakmatis dan bermusuhan akan gagal, dan umat tidak dipimpin oleh para pembantai dan penjahat di antara para penguasa?

Wahai manusia: Umat Islam telah hidup beruntung dalam waktu lama, kemuliaannya terjaga, ditakuti oleh musuh disekitarnya, berwibawa di mata para musuhnya, ketika umat dipimpin satu orang, dan di bawah perintah seorang pemimpin saja. Namun, setelah menderita penyakit umat, tercerai-berai dan terpecah-belah, umat mulai jatuh dan mengalami kemunduran. Sehingga umat menjadi santapan para manusia terhina, dan mereka menghormatinya di atas orang mulia, dan ini telah mewujudkan apa yang menjadi harapan Iblis. Sementara kebenaran Islam hanya diikuti oleh segelintir orang beriman, maka benarlah Allah dengan firman-Nya: “Dan janganlah kalian berbantah-bantahan, yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan hilang kekuatan kalian.” (TQS. Al-Anfal [8] : 46).

Wahai manusia: Puasa itu adalah menahan dan mencegah. Ia butuh keinginan yang kuat. Saat ini kemauan yang kuat dan tekad yang membaja telah hilang, ketika tidak lagi memiliki misi hidup, dan tidak memiliki tekad, dan kemauan sudah begitu lemah bahkan tidak memiliki kemauan sama sekali. Puasa mendidik kaum Muslim memiliki sikap penolakan dan perlawanan, menciptakan dalam diri manusia semangat menentang dan ketabahan, ketika pada saat puasa ia melawan keinginan untuk makan dan minum, serta tabah dengan tuntutan naluri dan sahwatnya, yang pada akhirnya mendorong perlawanan yang sama terhadap para musuhnya. Penentangan ini akan berakhir dengan deklarasi kemenangan orang yang berpuasa dalam dua keadaan, yaitu ketika orang yang berpuasa itu memperoleh pahala dari Tuhannya, dan terwujudkan baginya janji Allah dengan kemenagan atas musuhnya. Sehingga itu menjadi pendorong untuk kebangkitan umat dan bertambahnya di masa sulit ini.

Wahai kaum Muslim, aku sampaikan kepada kalian kabar gembira, bahwa umat telah memutuskan untuk melakukannya. Dan segala puji hanya bagi Allah. Umat telah meletakkan kakinya di jalan perubahan radikal yang menjanjikan. Mereka menyebar menghadapi kematian di jalan-jalan dan alun-alun. Wahai Tuhan, bantulah umat megokohkan urusannya, dan menegakkan Khilafah melalui tangan-tangan generasi kita yang sedang berpuasa.

*** *** ***

Wahai manusia: Kita memasuki bulan suci Ramadhan tahun ini dalam musim yang sangat panas. Dan pahala diberikan sesuai kadar kesulitan dan beratnya. Kita berpuasa dan tidak peduli dengan semua itu. Sebab dengan puasa di musim yang sangat panas ini, kita melindungi diri dari panas dan kobaran neraka jahannam.

Suatu hari Hajjaj mengundang seorang Badui untuk makan bersamanya. Badui itu berkata pada Hajjaj: “Sungguh, aku telah diundang oleh orang yang lebih utama dan mulia dari Anda.” Hajjaj bertanya: “Siapa orang yang lebih utama dan mulia dari saya, hai Badui?” Badui berkata: “Aku puasa hari ini dan aku diundang ke meja hidangan Allah SWT.” Hajjaj berkata padanya: “Apakah Anda puasa di hari yang sangat panas ini?” Badui berkata pada Hajjaj: “Aku berpuasa untuk hari yang lebih panas dari hari ini.” Hajjaj berkata padanya: “Puasa besok saja. Sekarang makan bersama saya.” Badui berkata: “Hai Hajjaj, apakah Anda tahu perkara ghaib. Sehingga Anda menjamin bahwa aku akan hidup hingga besok?”

Wahai manusia: Bulan Ramadan memiliki pengantar, isi dan kesimpulan (hasil): Pengantar Ramadhan adalah sabda rasulullah Saw: “Bahwa Allah SWT memperhatikan ciptaan-Nya pada pertengahan malam bulan Sya’ban (nishfu Sya’ban). Kemudian Allah mengampuni hamba-hamba-Nya kecuali dua orang: orang yang suka bertengkar dan orang musyrik.” Ini merupakan isyarat untuk mempersiapkan jiwa menyambut Ramadhan dengan jiwa yang baik, bertaubat, beribadah dan beriman. Adapaun isinya, adalah puasa di siang hari, shalat tarawih di malam hari, bersedekah, berdikir, melakukan amar makruf nahyi mungkar, berbagai aktivitas dakwah, dan berjihad di jalan Allah. Sedang kesimpulan (hasilnya) adalah ampunan, pembebasan dari neraka, mengalahkan jiwa dan musuh, dan menyebarkan agama Allah di muka bumi.

Sungguh, kami memohon kepada Allah untuk mewujudkan bagi umat ini kemuliaan, keunggulan dan kemenangan yang diimpikan, serta menjadikannya tergenggam kokoh dalam genggaman orang-orang yang bepuasa. Dan semoga Allah menjadikan hilal Ramadhan kali ini sebagai hilal terakhir sebelum berdirinya Khilafah Islamiyah Rasyidah II yang tegak di atas metode kenabian. Ya Allah, jadikan kami di antara para saksi berdirinya Khilafah, tentaranya, dan di antara orang-orang yang bekerja dengan ikhlas untuk mendirikannya (Materi Khuthbah Syaikh Isham Amira).

Sumber: al-aqsa.org, 29/07/2011.

8/09/2011 | Posted in | Read More »

Kemerdekaan; Disyukuri atau Dirayakan?


Memasuki bulan Agustus, semua lapisan masyarakat ikut ngeramein perayaan HUT kemerdekaan RI. Siswa-siswi ‘playboy’ alias anak-anak TK sibuk berkarnaval dengan baju adat yang berbeda-beda. Remajanya kudu rela ditodong jadi panitia tujuh belasan. Pak RT aja sampe mondar-mandir kayak setrikaan nagih iuran agustusan. Bener-bener nggak boleh ada yang cuek. Huhuy!

Bagi para penjual bendera dan umbul-umbul, bulan ke delapan ini ibarat bulan berkah. Pernak-pernik kemerdekaan mereka tawarkan di pinggiran jalan raya. Ada juga yang keliling kampung bertemankan gerobak usangnya. Satu per satu bendera dengan berbagai ukuran, tongkat, atau kain umbul-umbul yang mereka pajang berpindah ke tangan pembeli. Pokoknya laris manis tanjung kimpul! Padahal di bulan-bulan laen, barang dagangan mereka jarang dilirik lho (karena memang nggak jualan hihihi)

Di ganggang rumah kita, aksesoris perayaan kemerdekaan yang penuh kreasi dan inovasi kian semarak. Tiap rumah kudu masang bendera. Jalanan dibersihkan dan dicat. Gapura yang awalnya kusam, lecek, bin dekil kini tampil lebih menarik setelah dicat. Pinggirannya dihiasi umbul-umbul dan pita dengan paduan warna mencolok. Nggak ketinggalan lukisan yang bernuansa patriotisme juga adakalanya numpang beken melatarbelakangi gapura.
Saking kreatifnya, gelas bekas minuman mineral pun diberdayakan. Mereka digantung terbalik melintangi jalan masuk gang setelah dicat merah-putih. Nasib yang sama juga dialami es mambo yang berwarna-warni kayak pelangi yang biasanya nongkrong dalam kulkas.

Belon lengkap rasanya kalo nuansa ‘independence day’ ini lolos dari otak fulus pengelola pusat perbelanjaan. Yup, jauh-jauh hari mereka udah bikin agenda khusus buat nyambut ajang ini. Setiap sisi mal bertaburan balon, pita, bendera plastik, dan segala aksesoris kemerdekaan. Potongan harga, door prize, hingga pagelaran musik mereka gelar dengan label “Dalam rangka peringatan HUT kemerdekaan” demi mendongkrak penjualan.
Phew! Melototin bentuk partisipasi penduduk negeri ini untuk memeriahkan kemerdekaannya emang capek. Selalu aja ada yang baru, aneh, dan spektakuler. Yang pasti, satu hal yang udah jadi ‘rukun’ dalam setiap bentuk partisipasi itu: kudu meriah euy…!

Satu hari di tanggal keramat
Pagi itu waktu menunjukkan pukul setengah tujuh. Tapi tumben siswa-siswi dari SD, SMP, sampe SMU udah pada baris rapi di lapangan sepakbola di tengah kota. Padahal jam segitu biasanya mereka masih asyik bermesraan dengan bantal guling atau ngecengin serial kartun Goro-Goro. Anehnya lagi, Bapak-Ibu Guru, dan para karyawan instansi pemerintah juga ngikut baris. Coba tebak, mereka lagi ngapain hayo?
Yang pasti mereka bukan lagi pada antri sembako dong. Seratus! Mereka lagi ikut upacara perayaan HUT Kemerdekaan RI setiap tanggal 17 Agustus. Lihat saja, pasukan pengibar bendera, baik yang Pusaka maupun yang Ichtra Jaya (eh, sori ini mah nama bis Bogor-Lebak Bulus ya? Hihihi) maksudnya yang biasa, udah siap dari ba’da shubuh tadi. Soalnya mereka yang jadi bintang. Iya dong. Bayangin aja, kalo mereka kebalik masang bendera, bisa jadi perayaan kemerdekaan negara Polandia. Berabe kan?

Selesai upacara, semua peserta yang kepanasan pada bubar tak tentu arah. Para pelajar langsung cabut menuju rumahnya. Biar nggak ketinggalan daftar perlombaan tujuh belasan. Maklum, antusias generasi muda untuk acara tahunan ini ngalahin audisi AFI, Indonesian Idol, KDI, atau Cantik Indonesia. Asli. Mereka bela-belain desak-desakan deh di pintu masuk biar dapet tiket. Sampe rela adu jotos segala. Ih, asal deh. Emangnya mo nonton konser apa? Hehehe…

Tibalah saat yang dinantikan. Dikelompok balita, para peserta lagi sibuk lomba nangkep ikan pake tangan (masa’ iya pake kail?). Yang belasan tahun lagi pada pemanasan sebelum balap karung, balap kelereng, balap makan kerupuk, lomba masukkin jarum ke benang (eh, kebalik ya?), atau ngambil uang pake gigi yang ditempelin di jeruk bali yang berlumuran darah, eh oli. Sementara orang dewasa sebangsa bapak dan ibu juga nggak kalah sibuknya nyusun strategi. Biar menang dalam lomba tarik tambang, bakiak racing, sepakbola pake rok, atau joged dangdut berpasangan sambil menghimpit bola (coba bolanya diganti granat. Seru kali yee…? Hihihi)
Puncak acara siang itu diakhiri lomba panjat pinang yang diikuti cowok-cowok topless alias telanjang dada. Mereka kudu bisa manjat pohon pinang yang penuh dengan lumuran oli biar bisa dapetin hadiah menarik yang digantung di puncak pohon. Ada kaos, payung, buku, minuman, bola, sepeda, sampe duit kontan. Tapi kayaknya, monyet aja ogah kali kalo disuruh ikut. Udah mah licin banget, doi juga bisa minder. Sebab wajah para pesertanya yang dilulur oli nggak kalah cakepnya ama doi. Gubraks!

Lapangan yang tadi pagi dipake upacara, siangnya buat perlombaan, malamnya kudu rela dihiasi panggung pagelaran musik. Buat acara malam kesenian agustusan yang nggak kalah menariknya. Di sini, ada acara pembagian hadiah, live show, dangdutan, sampe tari kreasi. Parahnya, banyak tari kreasi yang ditampilkan grup cewek yang menggoda. Baik dari pakaiannya yang minim, ketat, bin seksi, juga gerakannya yang erotis. Nggak jauh beda ama perilaku bidadut. Udah gitu, para penontonnya juga campur baur laki-perempuan. Malah ada yang mojok juga. Parah pisan euy. Walhasil, ajang independence day ini ditutup dengan acara malam penuh maksiat. Ciloko tenan Rek!

Benarkah kita sudah merdeka?
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata merdeka berkaitan dengan penjajahan, berarti lepas dari berbagai bentuk penjajahan dan penghambaan manusia terhadap manusia lainnya, baik penjajahan secara fisik maupun penjajahan dalam bentuk ekonomi, sosial, politik, dan budaya.
Kalo baca definisi di atas, kita tentu yakin sejak dibacakannya teks proklamasi 59 tahun yang lalu, negeri ini udah terbebas dari penjajahan secara fisik. Nggak ada lagi perang, kerja paksa, kerja rodi, romusha, atau meneer Belanda yang sok kuasa. Para penjajah udah tereliminasi dari bumi pertiwi. Sehingga Kikan, vokalis Cokelat dengan lantang bisa menyuarakan “..merah putih teruslah kau berkibar/di ujung tiang tertinggi/di Indonesiaku ini…” Taaarik Maaang!

Cuma yang bikin kita ragu, apa benar negeri ini udah merdeka dalam bentuk ekonomi, sosial, politik, dan budaya?

Soalnya, pemerintahan kita masih betah pake sistem demokrasi sekuler buatan orang kafir Barat yang bertentangan dengan Islam. Padahal mayoritas penduduk negeri ini muslim. Kebijakan ekonomi kita pun kudu tunduk di bawah tekanan lembaga keuangan dunia seperti IMF. Akibatnya sumber daya alam yang melimpah dikeruk seenaknya oleh para investor asing. Seperti yang terjadi pada sumur-sumur minyak negeri kita yang dikuasai perusahaan raksasa minyak asing berjaket Exxon/Caltex, Atlantic Richtfield/Arco, Mobil Oil. ConocoPhilips, British Petroleum dll. Pengusaha asing dapet minyak mentah, kita cuma kebagian minyak jelantah. Walah!

Kondisi ini diperparah dengan mewabahnya sikap individualis di masyarakat kita. Sedikit sekali yang peduli dengan penjajahan budaya Barat yang masuk via media massa. Sampe-sampe multivision plus berani ngajak remaja ‘berzina’ lewat film terbarunya bertajuk ‘Buruan Cium Gue!’. Masyarakat seolah menutup mata dan telinga dengan ancaman seks bebas, budaya permisif, atau gaya hidup hedonis yang tengah membidik remaja. Alamat hancur generasi muda Islam. Betul? Betuuul!

Di tingkat individu muslim, gencarnya opini sekuler via media massa lambat laun mengikis pertahanan akidah mereka. Standar perbuatan halal-haram tergeser oleh asas manfaat. Kebahagiaan hidup diorientasikan hanya kepada perolehan materi sebanyak mungkin dengan gampang. Harga diri dan kemuliaan sebagai seorang muslimah pun rela digadaikan di ajang pencarian bakat yang mengekspos aurat. Gaswat!

Sobat muda muslim, udah deh. Kita jujur aja. Kalo kita memang belon merdeka alias masih dijajah secara pemikiran dan budaya. Demokrasi, privatisasi, sikap individualis, asas manfaat, seks bebas, permisifisme, gaya hidup hedonis, atau budaya populer adalah raport merah peradaban Barat yang sekuler. Sialnya, di negeri kita justru raport merah itu dianggap nilai istimewa. Akhirnya, perlahan-lahan dengan penuh kebanggaan, nilai-nilai itu diperjuangkan, dipertahankan, malah diupayakan agar mampu mewarnai negara, masyarakat, dan teman-teman di sekeliling kita. Hiks…hiks…hiks… Beginilah nasib negara kalah yang terjajah. Dijajah kok bangga?

Mensyukuri kemerdekaan
Sobat muda muslim, nikmat kemerdekaan yang telah diberikan Allah ini udah sepatutnya kita syukuri. Bukan dirayakan. Karena mensyukuri berarti mengharapkan ridho ilahi. Sementara merayakan bisa melenakan dan diridhoi setan alias kufur nikmat. Apalagi dilengkali dengan maksiat. FirmanNya: “Sesungguhnya jika kalian bersyukur pasti kami akan menambahkan nikmat kepada kalian. Jika kalian mengingkari nikmat-Ku sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS Ibrahim [14]: 7)
Sebagai wujud rasa syukur kita kudu kembali kepada Islam dengan segala aturan hidupnya yang mulia. Sebagaimana yang diperintahkan Allah swt.:
íóÇÃóíøõåóÇ ÇáøóÐöíäó ÁóÇãóäõæÇ ÇÏúÎõáõæÇ Ýöí ÇáÓøöáúãö ßóÇÝøóÉð æóáÇó ÊóÊøóÈöÚõæÇ ÎõØõæóÇÊö ÇáÔøóíúØóÇäö Åöäøóåõ áóßõãú ÚóÏõæøñ ãõÈöíäñ
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara total. Janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian.” (QS al-Baqarah [2]: 208)

Eh, boro-boro bersyukur, malah kejebak dalam kondisi eforia alias hiburan yang kebablasan. Dengan menggelar ajang pesta-pora, hura-hura dan suka-suka yang nggak jelas juntrungannya, tapi jelas asalnya dari budaya Barat. Selain termasuk kufur nikmat, di mana penghargaan kita terhadap perlawanan para pahlawan Islam yang dilakukan Tjut Nyak Dien di Aceh; Sisingamaraja XII di Tapanuli; Patimura di Maluku; Imam Bonjol di Padang; Pangeran Diponegoro di Jateng; atau Panglima Besar Sudirman?

Para pendahulu kita itu tentu menginginkan kemerdekaan yang mereka perjuangkan diisi dengan aktivitas mulia. Melahirkan generasi muda muslim yang berprestasi. Menciptakan karakter remaja yang tangguh dan istiqomah. Sehingga mampu menghadapi penjajahan modern melalui serangan pemikiran dan budaya sekuler Barat. Jangan sampai rantai perjuangan itu terputus. Karena permusuhan orang kafir terhadap Islam, nggak ada matinya. Bahkan mereka “OL” terus! Catet itu.
Itu sebabnya, mari kita perdalam Islam di forum-forum pengajian. Agar tidak terjebak budaya sekuler Barat (termasuk budaya Sosialisme-Komunisme). Kita amalkan syariat Islam dalam setiap aktivitas kita. Biar pola hidup kita nggak ketuker ama pola hidup Barat yang menuhankan hawa nafsu. Kita dakwahkan Islam sebagai ideologi. Supaya kaum muslimin memahami dan meyakini bahwa cuma Islam yang mampu melawan penjajahan fisik, pemikiran, dan budaya orang-orang kafir. Dengan begitu, kita semua bisa bersama-sama berjuang demi kemuliaan Islam melalui tegaknya Khilafah Islamiyah yang bakal ngasih garansi kemerdekaan hakiki negeri ini dan juga negeri muslim lainnya. Khilafah akan membebaskan penjajahan, baik yang bersifat fisik (militer), juga penjajahan dalam bentuk ekonomi, politik, budaya, juga sosial. Mau kan? Kamu harus bin kudu jawab: “Ya…ya…ya…” [hafidz]studia Edisi 208/Tahun ke-5 (16 Agustus 2004)

8/09/2011 | Posted in , | Read More »

hidup sejahtera dalam naungan khilafah

Sudah saatnya menyatukan hati, pikiran, dan langkah untuk mengganti sistem yang ada dan mewujudkan kehidupan yang lebih baik dan diridhai Allah swt. Itulah kehidupan dalam naungan khilafah Islam!

Ikuti rangkaian kegiatan kami di berbagai kota besar di Indonesia :
Forum Dialog Terbuka, Forum Ulama, Forum Pengusaha, Forum Intelektual, Forum Mahasiswa, Training, Workshop, Kajian dan Diskusi, video dan radio streaming, dll

Artikel terkait:

5/17/2011 | Posted in | Read More »

darurat Pornografi


dari www.hizbut-tahrir.or.id

JAKARTA - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencemaskan kasus pornografi yang kian marak di masyarakat sehingga menyerukan darurat pornografi. KPAI mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan perhatian khusus terhadap persoalan pornografi.

Wakil Ketua KPAI, Asrorun Ni’am Sholeh, mempermasalahkan produser film nasional yang semakin berani mendatangkan artis porno mancanegara ke Indonesia. Sementara, kesadaran untuk memerangi pornografi masih dinilai rendah. Terakhir, dia memprihatinkan kasus pesta seks anak di Palembang, Sumatra Selatan, akibat dari film porno yang mereka tonton. “Indonesia darurat pornografi,” katanya menegaskan, Ahad (24/4).

Asrorun mengungkapkan, Undang-Undang Pornografi yang diundangkan sejak November 2008 sebenarnya telah memerintah Presiden untuk memberantas pornografi. Sesuai Pasal 42 UU tersebut, Presiden mesti membentuk gugus tugas antardepartemen, kementerian, dan lembaga untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan UU.

Tapi, hingga kini belum ada inisiasi dari pemerintah. “Jangan sampai terjadi pembiaran oleh negara terhadap endemi pornografi ini,” kritik Asrorun.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Cholil Ridwan, juga mendesak pemerintah serius menangani pornografi. Masalah ini dinilainya sudah merusak moral generasi muda. Menurutnya, memerangi kemungkaran tak perlu dengan kekerasan. “Pemerintah yang mampu meng ubah kemungkaran menjadi kebaikan dengan kekuasaannya, surganya bisa lebih tinggi dari kiai,” tuturnya

MUI melihat UU Pornografi masih lemah karena tak bisa menjerat produser film yang mendatangkan artis porno. Tak ada klausal untuk meng hukum mereka. Karena itu, dia juga ber harap kepada ormas Islam untuk memberikan tindakan nyata dan tegas.

Persoalan pornografi, kata Cholil, tidak cukup dilawan dengan dakwah, ceramah, dan tabligh saja. “Namun, tindakan nyata itu bukan berarti melakukan kekerasan,” katanya.

Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI), Gomar Gultom, menyarankan pemerintah untuk lebih serius membenahi pendistribusian materi pornografi. Selain itu, pengawasan kepada media juga harus diperketat karena dia menilai beberapa majalah sangat vulgar. “Kita juga melihat tayangan di televisi yang masih vulgar,” sesalnya.

Sependapat dengan MUI, Gomar menyarankan para pemuka agama untuk ikut aktif melawan pornografi. Tokoh agama perlu bersama-sama membawa masalah pendidikan seksual ke mimbar. Menurutnya, mimbar tidak boleh tabu membicarakan masalah seksual.

“Jadi, untuk mengatasi masalah ini, pemerintah, keluarga, dan pemimpin agama harus bersama-sama berperan,” katanya. (republika, 25/4/2011)

4/25/2011 | Posted in , | Read More »

snapshot rimbo bujang maret 2011

Hampir 6 bulan lebih www.rimbobujangku.blogspot.com tidak saya update.bukanya tidak bisa online setelah pulang dari bogor tapi karena kesibukan ngurusin kerjaan jadi ga sempat buka-buka lagi. tadi siang setelah nego harga website saya punya pikiran untuk ngajak istri jalan-jalan silaturrahmi ke rumah saudara di jalan 8 unit 2 rimbo bujang dan membawa kamera saya. sepulang dari rumah saudara saya, sambil naik motor saya jeprat-jepret aja sekenanya dari mulai pasar buah sampai simpang jalan 22 unit 3 rimbo bujang rumah saya.berikut adalah hasil jepretan sekenanya.


















<span class=

3/13/2011 | Posted in | Read More »

65 Tahun Indonesia Merdeka: Kata Siapa?


Oleh :Harits Abu Ulya, Ketua Lajnah Siyasiyah DPP-HTI

Dengan usia kemerdekaan yang cukup matang, patut kiranya kita ajukan soal berikut; apakah para pemimpin dan pemangku pemerintahan telah mampu merealisasikan cita-cita dari kemerdekaan tersebut?

Sudahkah rakyat dan bangsa ini benar-benar merdeka dengan arti sesungguhnya?, jika penjajahan fisik sudah berakhir, apakah penjajahan ekonomi, politik, hukum dan budaya juga sudah berakhir di negeri ini?. Setiap 17 Agustus upacara pengibaran bendera dilakukan sebagai simbol kemerdekaan, namun fakta nasib rakyat negeri ini belum berubah signifikan. Nasib mereka makin merana, seperti makin lusuhnya bendera sang saka.

Seharusnya dengan rentang waktu setengah abad lebih (65th), sebagai bangsa merdeka idealnya telah banyak meraih impian anak-anak negeri.Karena potensi dan energi untuk itu dimiliki oleh bangsa ini.Namun lagi-lagi fakta berbicara lain, bahwa Indonesia belum “merdeka” dari keterjajahan politik, ekonomi, hukum dan budaya.

Indonesia belum “merdeka” dari kemiskinan, kebodohan, kerusakan moral, busng lapar, malnutrisi dan keterbelakangan. Perlu di ingat dari 237 juta jiwa lebih ini yang berpijak di atas tanah air ini adalah mayoritas muslim (87%), artinya jika belum merdeka secara “hakiki” maka merekalah yang mayoritas mengalami keterjajahan.

Pandangan diatas tentu tidak mengada-ada, sebagai contoh dalam sebuah jajak pendapat yang dilakukan harian Kompas (16/8/2010); masyarakat menilai banyak aspek dan kondisi makin buruk saja pada saat ini. Semisal pada aspek keadilan hukum (59,3% menyatakan semakin buruk, 13,4%:tetap, 21,6%:semakin baik),keadilan ekonomi (60,7%:semakin buruk, 15,1%:tetap,21,1%:semakin baik).

Dan angka yang menunjukkan rendahnya kebanggaan terhadap bangsa dan tanah airnya cukup tinggi (29,8%:semakin buruk). Ketika bicara pada aspek peran negara, apakah sudah memadai atau belum dalam menciptakan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia dalam berbagai bidang paling krusial, kesimpulanya peran negara tidak memadai.

Peran negara dalam bidang Ekonomi (tidak memadai:75,7%,), politik (tidak memadai:53,5%), hukum (tidak memadai:72,7%), pendidikan (tidak memadai:46,9%), kesehatan (tidak memadai:48,4%).Dan pandangan masyarakat tentang kemerdekaan, terlihat jelas bahwa Indonesia belum merdeka baik menyangkut aspek ekonomi (67,5%:menyatakan belum merdeka), politik (48,9%;menyatakan belum merdeka), budaya (37,1%:belum merdeka).

Tentu pandangan dan persepsi masyarakat (sampling di atas) tidak mengada-ada, rasanya cukup mewakili pandangan mayoritas rakyat Indonesia. Karena fakta empirik mereka merasakan dan meraba atau bahkan menjadi obyek penderita dari keterjajahan di era ”merdeka” saat ini. Seakan layak diartikulasikan dalam sebuah pertanyaan retorik; Indonesia merdeka, kata siapa?.

Dalam rentang waktu 65 tahun, di Indonesia masih menyuguhkan potret terkini dari kehidupan rakyatnya yang masih banyak memprihatinkan. Dari data BPS yang dibacakan presiden SBY (16/8), jumlah penduduk Indonesia 2010: 237.556.363 jiwa dan yang masuk katagori miskin lebih dari 100 juta penduduk dengan ukuran pendapatan 2 dolar AS/hari, bukan sekitar 31,02 juta (sekitar 13,33%) seperti yang dirilis oleh BPS.Dan sebagian kemiskinan itu sebaranya ada di 183 kabupaten terkatogori tertinggal (79%:kawasan Indonesia timur, 30%:kawasan barat Indonesia).

Bahkan ditengah hiruk pikuknya perayaan di halaman Istana Merdeka, nun jauh di perbatasan Kaltim-Malasyia, ada 255 desa diperbatasan terisolir dengan kehidupan memprihatinkan dan tingkat kesejahteraan mereka sangat rendah, sangat paradoks. Badan Pusat Statistik (BPS) mengaku tingkat pengangguran terbuka pada Agustus 2009, mencapai 8,96 juta orang atau 7,87 persen dari total angkatan kerja sebanyak 113,83 juta orang. Jumlah tersebut menurun 7,87 persen dibandingkan posisi Februari 2009, sebanyak 9,26 juta atau turun 8,39 juta dibandingkan Agustus tahun lalu yang mencapai 9,39 juta.Fakta saat ini di tahun 2010 tidak ada penurunan angka yang signifikan, bahkan dalam pidato kenegaraan Presiden SBY hanya menggambarkan tentang apa yang akan dikerjakan ke depan layaknya kampanye.

Namun tidak menjelaskan mengapa target periode pertama masa jabatan tidak tercapai.Yaitu (target) kemiskinan menjadi 8,2 % dan (target) angka pengangguran menjadi 5,1 % pada tahun 2009. Contoh, di ibukota Jakarta saja, lebih dari 73 ribu sarjana jadi pengangguran dan dari jenjang SMK menyumbang angka pengangguran lebih tinggi lagi.Jika mereka mendapatkan pekerjaan maka yang banyak di sektor buruh (82%) dan itupun tidak dilindungi kontrak.

Pidato kenegaraan jelang hari kemerdekaan menjadi tak berarti, karena hanya menjadi ajang “memuji” keberhasilan semu penguasa dan politik pencitraan. Berbusa-busa cerita espektasi RAPBN-2011 dan nota keuangan, dengan memaparkan asumsi makro dalam RAPBN 2011; pertumbuhan ekonomi Indonesia: 6,3%, nilai tukar Rupiah: Rp 9.300 per dolar AS, inflasi: 5,3%, SBI 3 bulan: 6,5%, harga minyak: US$ 80 per barel, lifting minyak: 970.000 barel per hari (pidato kenegaraan Presiden SBY 16/8).

Bahkan rencana menaikkan kembali gaji pegawai negeri sipil, Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara RI serta pensiunan masing-masing 10 persen. Kenaikan akan mulai dilakukan pada tahun anggaran 2011.

Tentu bagi presiden itu sah-sah saja, tapi yang tidak bisa di ingkari adalah potret kemiskinan rakyat dan keterjajahan mereka di tanah airnya sendiri. Rakyat dihadapkan kenaikan harga yang makin tidak terkendali, baik bahan pokok(sembako), pupuk pertanian, biaya pendidikan dan kesehatan yang tinggi, hingga kenaikan TDL juga mendongkrok kenaikan kebutuhan-kebutuhan sekunder lainya.

Jika para pengusaha(industri) diminta tidak perlu kawatir dengan kenaikan TDL 15% yang efektifberlaku awal 2011, tentu hal ini menjadi absurt karena akhirnya rakyat kecil juga yang cemas dan menanggung efek dominonya. Yang tidak ketinggalan perlu diingat oleh masyarakat, APBN yang 70% sumbernya adalah dari pajak tapi sebagian besar tidak kembali untuk kesejahteraan rakyat. Karena sebagian di rampok oleh para koruptor, sebagian lagi melalui kebijakan yang tidak pro-rakyat menjadikan APBN tidak memberikan dampak signifikan bagi kesejahteraan.

Bisa di bandingkan, bagaimana sikap penguasa menghadapi kasus Bank Century yang sigap mengucurkan Rp 6,7 triuliun (yang akhirnya di rampok juga) tapi begitu abai untuk menyelamatkan korban lumpur Lapindo, atau tega menurunkan subsidi baik disektor pendidikan (turun 1,5 triliun), pertanian, kesehatan dan BBM, subsidi 2011 sebesar Rp 41 triliun, turun Rp 14,1 triliun (25,6%) dibanding tahun 2010, Rp 55,1 triliun. Dan yang terbaru pemerintah rencana melepaskan harga gas kepasar, setelah rakyat sebelumnya digiring untuk mengikuti kebijakan konversi dari minyak ke gas oleh pemerintah.

Merdeka akhirnya menjadi sebatas retorika, hanya dinikmati orang partai yang punya akses dijabatan publik serta orang-orang yang berada seputar kekuasaan dengan logistik yang cukup mereka menguras kekayaan negara dan menggunakan untuk berpesta pora di arena politik.Rasanya wajar, jika beberapa daerah menuntut otonomi daerah, hingga referendum untuk menjadi negara bagian (federal) bahkan menuntut kemerdekaan.Sebagai contoh kasus, Papua yang terus bergejolak hingga sekarang adalah potret kegagalan otonomi khusus yang tidak terimplementasi dengan baik.

Kalau seorang presiden SBY, di pidato kenegaraan pertama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam masa bhakti Kabinet Indonesia Bersatu II ini juga mengklaim keberhasilan pemerintah dalam melaksanakan perubahan demokrasi yang fundamental. Indonesia diam-diam sedang berevolusi. Telah melaksanakan proses desentralisasi yang sangat ekstensif. Menyelenggarakan pemilihan kepala daerah secara langsung di seluruh Indonesia, kini, seluruh Gubernur, Bupati, Walikota di Indonesia telah dipilih langsung oleh rakyat. “Pelaksanaan demokrasi langsung ini mengubah banyak hal.

Kini, rakyatlah yang berdaulat, bukan lagi sekelompok orang yang mengatasnamakan rakyat,” ucap SBY.Hasilnya, peta politik Indonesia telah berubah secara fundamental kata SBY di hadapan seluruh anggota DPD dan DPR RI di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Senin 16 Agustus 2010. Ini pernyataan “jauh panggang dari api”, artinya klaim keberhasilan berdemokrasi tidak berbanding lurus dengan tingkat keadilan dan kesejahteraan yang didapat oleh rakyat. Rakyat berdaulat itu ilusi demokrasi, menjadi gubernur gajinya Cuma sekitar 8 juta, walikota sekitar 6 juta kemudian ketika seorang hendak merebut kursi kekuasaan ongkos politik yang mereka keluarkan hingga mencapai ratusan miliar.

Kemudian ketika terpilih dituntut untuk menciptakan pemerintahan yang clear dan clean, budaya politik yang bejat menjadikan “clear dan clean” menjadi mimpi disiang bolong. Kekuasan akan mengabdi kepada segelintir orang (oligarki kekuasaan), rakyat tetap terpinggirkan nasibnya. Tapi rakyat selalu dijadikan tumbal dan alasan pembangunan, padahal itu adalah penipuan dan inilah fakta budaya politik Indonesia yang dibangun diatas struktur politik dan substansi politik demokrasi-sekuler.

Di tahun 2010 saja,SBY sudah meneken izin pemeriksaan 150 kepala daerah yang tersangkut kasus korupsi.Dalam kurun 2009-2014 Indonesia sudah dan akan melakukan 503 pemilu memperebutkan 19.433 kursi. Yakni sekali pemilihan presiden dan wapres, kemudian 4 kali pemilu legislatif, 32 kali pemilihan gubernur dan wagub,466 kali pemilihan bupati/walikota dan wakilnya.Kita bisa bayangkan, berapa dana yang dihamburkan? Dan sejauh ini perubahan apa yang didapatkan oleh rakyat?.Inilah paradoks demokrasi.

Rakyat terjajah penguasanya sendiri?

Dari beberapa gambaran diatas, jika mau jujur akar masalahnya adalah pada sistem kehidupan yang dipakai oleh Indonesia. 65 tahun merdeka dengan mengadopsi demokrasi-sekuler, dengan bentuk pemerintahan presidensil kadang parlementer, menjadikan Indonesia menjadi negara merdeka yang tidak berdaulat atas negerinya sendiri. Karena pada akhirnya “demokrasi” menjadi topeng imperialisme baru terjadi begitu masif dilakukan bangsa barat (AS dan sekutunya) terhadap Indonesia.

Para pemimpinnya mabuk dengan doktrin demokrasi, globalisasi dan liberalisasi. Tanpa sadar, dogma-dogma yang dijadikan “topeng” penjajahan gaya baru itu menyebabkan lahirnya kebijakan-kebijakan yang membuat kemerdekaan tak berarti untuk anak negeri. UU KHUP masih warisan penjajah, UU pengelolaan SDA yang liberal, UU kelistrikan, UU pendidikan, kesehatan dan banyak lagi yang lain tidak begitu berpihak dan berorentasi kepada kepentingan rakyat. Dengan kekuatan lobi dan jejaring serta dominasi sain teknologinya, bangsa imperialis mengkooptasi semua potensi yang ada diperut bumi negeri tercinta ini mengoyak dan menyedot semua isi.

Kita bisa saksikan; berapa kebijakan (regulasi) yang pro-imperialis menjadi sebab rakyat masih dalam kotak kemiskinan. Indonesia menjadi terjajah kembali oleh negara-negara imperialis dan dibantu oleh para pengkhianat negeri. Para komprador lokal yang terdiri dari para penguasa, politikus, intelektual yang lebih loyal kepada kepentingan Asing karena syahwat kekuasaan dan kebutuhan pragmatisnya.Wajar rakyat seperti “ayam mati dilumbung padi”, sengsara dinegerinya sendiri dan Indonesia dengan julukan “zamrud katulistiwa, negeri yang subur” tidak begitu berarti bagi anak negeri.

Kembali kepada kemerdekaan hakiki: Islam

Dari aspek ekonomi, jelas kita masih dijajah. Kebijakan ekonomi merujuk Kapitalisme Barat. Ketergantungan ekonomi kepada negara-negara kapitalis Barat juga luar biasa. Utang luar negeri yang terus bertambah hampir 2.000 triliun dan menjadi beban yang diwariskan dari generasi ke generasi. Aspek politik, juga masih dijajah. Buktinya, sistem politik yang kita anut, yakni demokrasi, lagi-lagi berasal dari negara kapitalis penjajah.

Tragisnya, demokrasi menjadi alat bagi penjajah Barat untuk menjamin kepentingan-kepentingannya. Hukum kita masih didominasi oleh hukum-hukum kolonial. Fakta kemiskinan menjadi penyakit umum rakyat; busung lapar dan gizi buruk terjadi di mana-mana. Negara juga belum berhasil membebaskan rakyatnya dari kebodohan. Rakyat juga masih belum aman. Pembunuhan, penganiyaan, dan kriminalitas menjadi menu harian rakyat Indonesia. Bukan hanya tidak aman dari sesama, rakyat juga tidak aman dari penguasa mereka.

Hubungan rakyat dan penguasa bagaikan hubungan antarmusuh. Tanah rakyat digusur atas nama pembangunan. Pedagang kaki lima digusur di sana-sini dengan alasan penertiban. Pengusaha tidak aman dengan banyaknya kutipan liar dan kewajiban suap di sana-sini. Para aktifis Islam juga tidak aman menyerukan kebenaran Islam; mereka bisa diculik kapan saja dan dituduh sebagai teroris.

Karena itu, kunci agar kita benar-benar mampu melepaskan diri penjajahan ada dua: pertama; melepaskan diri dari sistem kapitalis dalam segala bidan, kedua; jangan percaya pada penguasa dan politisi yang menjadi kaki tangan negara-negara kapitalis. Dan tidak sekadar melepaskan diri dari sistem kapitalis. Sebagai solusinya, kita harus menerapkan aturan-aturan Islam dalam seluruh kehidupan kita. Hanya dengan syariat Islamlah kita dapat lepas dari aturan-aturan penjajahan. Hanya dengan syariat Islam pula kita bisa meraih tujuan-tujuan bernegara.

Syariat Islam yang akan diterapkan oleh Khilafah Islam akan menjamin kesejahteraan rakyat karena kebijakan politik ekonomi Islam adalah menjamin kebutuhan pokok setiap individu rakyat. Lebih dari kebutuhan pokok (primer), negara juga akan memberikan kemudahan kepada rakyat untuk mendapatkan kebutuhan sekunder dan tersier. Negara juga akan menjamin kebutuhan vital bersama rakyat seperti kesehatan gratis, pendidikan gratis, dan kemudahan transportasi.

Khilafah Islam juga akan menjamin keamanan rakyat dengan menerapkan hukum yang tegas. Dan capaian semua berdiri tegak diatas sebuah ideologi yang sesuai fitrah manusia, menentramkan jiwa dan memuaskan akal. Menjadikan setiap hamba menghamba kepada Sang Maha Pencipta hamba, bukan menjadi budak sesama hamba, maka akhirnya menjadi rahmatan lil ‘alamin dengan tegaknya ideologi tersebut dalam realitas kehidupan bermasyarakat dan bernegara.Wallahu a’lam bisshowab

Sumber : www.eramuslim.com

8/19/2010 | Posted in | Read More »

Konferensi Rajab Kokohkan Tekad Perjuangan Menegakkan Syariah dan Khilafah



Jakarta,- Sekitar 1500 peserta dari Jabodetabek dan sekitarnya dari pagi hingga sore memadati Gedung Balai Pustaka untuk mengikuti Konferensi Rajab 1431 H yang bertajuk Hizbut Tahrir Menjawab (Solusi Islam untuk Krisis Indonesia dan Internasional), Ahad (25/7) di Jakarta.

Jurubicara HTI Muhammad Ismail Yusanto di sela-sela acara menyatakan HTI melalui forum ini menyerukan kepada umat Islam Indonesia umumnya dan khususnya kepada hadirin untuk mengokohkan tekad dalam tiga hal.

Pertama, menolak segala bentuk sistem sekuler baik di bidang politik, ekonomi, dan lainnya karena sistem itu bertentangan dengan prinsip keimanan kepada Allah SWT yang hakiki.

Kedua, bahu membahu berjuang dengan sungguh-sungguh dan ikhlas bagi tegaknya sistem syariah dalam bingkai khilafah karena hanya dengan itu segala sistem jahiliah akan tersingkir dan kerahmatan Islam terwujud secara nyata serta segala krisis negeri ini dan dunia akan teratasi dengan baik.

Ketiga, mengokohkan tekad untuk secara nyata terlibat dalam perjuangan dan dakwah bagi tegaknya syariah dan khilafah, sejak proses pembinaan, interaksi dengan umat hingga perjuangan politik bagi terwujudnya kehidupan Islam.

Antusias

Peserta begitu antusias mengikuti konferensi yang membahas berbagai krisis ekonomi dan politik baik dalam maupun luar negeri ini. Pekikan takbir berkali-kali menggema saat pembicara membahas solusi Islam yang ditawarkan Hizbut Tahrir untuk mengatasi semua masalah itu.

Asmuni Sholihan, salah seorang peserta, menyatakan kepuasannya mengikuti acara yang disiarkan secara langsung melalui internet (video streaming) HTI Channel ini. “Sangat bagus sekali karena dibicarakan problematika sekaligus solusinya,” ujar penterjemah buku-buku Islam yang tinggal di Jakarta Timur itu.

Sedangkan peserta lainnya, Sutarman Muchtar, menyatakan acara ini baik sekali untuk semua umat Islam khususnya di Indonesia. “Kita setuju sekali dengan penegakan syariah dalam bingkai khilafah,” ujar wakil ketua Persatuan Islam (Persis) Jakarta Barat itu.

Konferensi Rajab adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir sejak bulan Rajab hingga Sya’ban ini di berbagai belahan dunia dari Australia hingga Libanon untuk mengingatkan bahwa kaum Muslim wajib kembali menegakkan pemerintahan yang dirintis Rasulullah SAW dan dilanjutkan oleh para khalifah selama 1300 tahun hingga diruntuhkan oleh penghianat Mustafa Kamal pada bulan Rajab 89 tahun lalu.[] joko प्रसेत्यो

8/16/2010 | Posted in | Read More »

Jumat Pertama Ramadhan: Pasukan India Bunuhi Kaum Muslim Kashmir


Syabab.Com - Tanpa adanya Khilafah kaum kafir terus menerus membunuhi kaum Muslim. Pasukan keamanan pemerintah musyrik India telah menembaki kaum Muslim para pengunjuk rasa di Kashmir, menewaskan empat orang, termasuk remaja. Insiden terjadi pada hari Jumat, 13/08/10, ketika pasukan keamanan India menembakkan peluru dan peluru gas air mata pada pengunjuk rasa di Kashmir.

Bentrokan terjadi setelah puluhan jamaah yang menghadiri shalat Jumat dihentikan oleh pasukan India dengan alasan pembatasan keamanan yang dikenakan di wilayah tersebut.

Seorang remaja, 17 tahun, ditembak mati di distrik Kupwara, sebelah utara Srinagar Kashmir.

"Ratusan orang keluar ke jalan-jalan setelah sholat shubuh dan melakukan aksi protes anti India yang brutal," kata seorang saksi.

Para pengunjuk rasa menuduh pasukan India menembaki tanpa adanya provokasi. Pejabat polisi mengatakan puluhan lainnya terluka dalam kerusuhan.

"Beberapa orang terluka, termasuk seorang wanita berusia 60 tahun," kata seorang perwira polisi.

Jam malam telah diberlakukan untuk mencegah kerusuhan lebih lanjut di wilayah sengketa.

Kematian terbaru ini menyusul gelombang kekerasan baru-baru ini di lembah Kashmir yang dijajah India.

Setidaknya 55 orang telah kehilangan nyawa dalam bentrokan dengan pasukan India selama dua bulan terakhir. Kerusuhan terjadi sejak Juni setelah seorang pelajar remaja terbunuh oleh gas air mata.

Demikianlah, derita Muslim Kashmir belum juga berakhir. Kaum Muslim hanya membutuhkan satu kepemimpinan tulus yang akan menjaga kehormatan dan jiwa umatnya. Insya Allah, Khilafah pasti berdiri kembali! [m/prstv/syabab.com]

8/16/2010 | Posted in | Read More »

Sikap Ambigu Presiden SBY Soal “Terorisme”, Aneh!



Oleh: Harits Abu Ulya (Ketua Lajnah Siyasiah DPP-HTI)

Akhirnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono angkat bicara soal terorisme, sebelumnya lewat jubir presiden Julian A Pasha menyatakan bahwa presiden SBY sudah mengetahui perihal penangkapan Abu Bakar Ba’asyir melalui Kapolri di hari Senen (9/8). Plus tepisan kalau penangkapan tersebut bukan intruksi dari SBY. Kemudian saat Presiden SBY rapat kabinet di Sekretariat Negara mengingatkan kasus terorisme tidak bisa dikaitkan dengan agama maupun politik. Ia menegaskan terorisme merupakan kejahatan yang terkait dengan hukum. “Saya tak pernah membawa terorisme ke dalam arena politik, karena bukan politik. Juga tidak membawa terorisme ke arena agama, karena terorisme bukan ajaran agama,” kata SBY di Gedung Sekretariat Negara, komplek Istana Negara, Jakarta, Selasa (10/8).

Dan SBY mempercayakan kepada penegak hukum untuk menangani dengan cara tepat,profesional, akuntabel, dan dapat dijelaskan kepada publik. Bahkan menambahkan bahwa masalah ini sensitif dan sering melahirkan salah paham diantara masyarakat terhadap apa yang dilakukan penegak hukum.

Rasanya kelewat wajar kalau sebagian orang mengkritik sikap SBY, ambigu bahkan ada yang katakan lebay. Dalam kasus terorisme, masih terekam beberapa jejak sikap SBY yang ditampilkan dihadapan publik yang menunjukkan ambiguitasnya. Menjelang Pemilu Presiden di tahun 2009 silam,SBY mengomentari peristiwa bom di JW Marriott dan The Ritz Carlton, 17 Juli 2009. SBY mengatakan secara eksplisit, dirinya termasuk salah satu target incaran penembakan oleh kelompok yang ingin menggagalkan pemerintahan yang demokratis. “Berdasarkan laporan intelijen, ada upaya yang sistematis menggagalkan kelangsungan pemerintahan yang demokratis ini,” ungkap SBY merespon tragedi pengeboman di kawasan Mega Kuningan 17 Juli 2009. Hal yang sama sebelum penangkapan orang-orang yang diduga teroris dan kemudian disusul penangkapan ustad ABB, SBY juga mengeluh menyatakan dirinya menjadi sasaran kelompok teroris. “Saya dapat laporan tadi malam dari jajaran pengamanan, ada di antara anak bangsa yang punya niat tidak baik yang sekarang ada di sekitar Ciwidey,” ujarnya, Sabtu (8/8).

Di tahun 2010, tepatnya di bulan Mei presiden SBY juga mengeluarkan pernyataan terkait kasus terorisme juga. Dalam keterangan persnya di Bandara Halim Perdanakusumah, Senin (17/5/2010) sebelum bertolak ke Singapura dan Malaysia Presiden SBY menegaskan tujuan dari para teroris adalah mendirikan negara Islam. Padahal, menurut SBY, perdebatan tentang pendirian negara Islam sudah rampung dalam sejarah Indonesia. Aksi teroris juga bergeser dari target asing ke pemerintah. Ciri lain, menurut Presiden, para teroris menolak kehidupan berdemokrasi yang ada di negeri ini. Padahal, demokrasi adalah sebuah pilihan atau hasil dari sebuah reformasi. Karena itu menurut presiden keinginan mendirikan negara Islam dan sikap anti demokrasi tidak bisa diterima rakyat Indonesia.

Di satu sisi kita memang bisa menyaksikan keberanian pihak Polri luar biasa untuk menangkap kesekian kalinya ustad ABB, sebagian pihak menganggap tentu langkah ini dengan pertimbangan matang dan tidak gegabah. Terutama ketika Polri merasa memiliki bukti (data) yang meyakinkan untuk kembali menjerat ustad ABB.Dan menjadi beban moral yang sangat besar kiranya kalau kali ini mengulangi kegagalan, tidak bisa membuktikan didepan pengadilan melalui penuntut kejaksaan terbaiknya bahwa ustad ABB terbukti seperti yang disangkakan. Jika mampu untuk itu, tidak menutup kemungkinan ustad ABB akan dikenakan hukuman penjara seumur hidup atau hukuman mati. Dijangkauan pasal berlapis UU Terorisme. Yakni, pasal 14 jo pasal 7, 9, 11, dan atau pasal 11 dan atau pasal 15 jo pasal 7, 9, 11, dan atau pasal 13 huruf a, huruf b, huruf c UU No 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, Ancaman maksimalnya hukuman mati.Jika ini sukses, maka bisa dipastikan pemerintah AS, Australia, Singapura dan sekutu AS lainya mengulum senyum dan memberi warning kalau tugas kontra-terorisme tidak boleh berhenti sampai disitu.

Di sisi lain yang tidak bisa di abaikan, bahwa selama ini narasi tentang terorisme datangnya dari sepihak (polri).Lebih khusus datang dari Den88, dan wabil khusus lagi di sana ada satgas anti teroris di luar “struktur” yang dikendalikan oleh Gories Mere sekalipun saat ini dia ada di BNN (Badan Narkotika Nasional).Dan di sinyalir karena persahatan Gories Mere dengan Karni Ilyas (TV One) yang menyebabkan dalam isu terorisme TV yang satu ini masuk barisan terdepan untuk news update berita.Oleh karena itu, pada konteks ini meniscayakan penanganan kasus terorisme ini diduga sarat rekayasa, seperti pada kasus-kasus besar yang menghantam institusi polri.Misalkan pada kasus rekening gendut beberapa jendral polri, century gate, markus, dan semisalnya.Maka kalau sudah seperti ini, yang salah bisa benar dan sebaliknya serta dalih tuduhanpun bisa direka-reka berdasarkan paradigma subyektif yang dimiliki polri dalam melihat kasus terorisme ini. Lebih-lebih jika kontra-terorisme adalah proyek yang berkelindan didalamnya kepentingan asing dan dijadikan ajang menunjukkan “prestasi” dan mencari dana atau langkah pengalihan isu oleh para “komprador” asing dan kelompok opurtunis lokal.

Oleh karena itu perlu kiranya SBY menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut, sekiranya betul bahwa isu terorisme adalah murni kejahatan dan masuk diranah hukum. Dan terorisme bukan persoalan politik, juga bukan masalah agama.


Pertama; kalau ada pernyataan penangkapan ustad ABB bukan intruksi SBY sebagai presiden, maka artinya ada distorsi dalam penegakan hukum. Aneh jika Presiden menyatakan terkejut dengan penangkapan ABB, padahal Densus berada di bawah kendali Polri dan Kapolri bertanggung jawab langsung kepada presiden. Jadi Densus bekerja untuk siapa?,Sementara dari tahun 2003-2009 Polri sudah menangkap lebih dari 500 orang dalam kasus terorisme. Dan dimasa pemerintahan SBY banyak orang mati sekitar 40 orang dieksekusi dengan cara “ekstra judicial killing”. Dan minim sekali suara yang berteriak untuk mengatakan ini adalah “kedzaliman” atau pelanggaran HAM. Para penggiat HAM juga setengah hati, menyikapi soal korban proyek kontra-terorisme ini.


Kedua; bukankah kontra-terorisme telah SBY adopsi menjadi salah satu prioritas 100 hari kerja pemerintahannya? Diupayakan lahirnya blueprint penanganan secara koprehensif, yang terbaru dengan dibentuknya BNPT(Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) melalui Peraturan Presiden no 46 tahun 2010 yang SBY tanda tangani 16 Juli lalu. Sekaligus ini bukti implementasi komitmen SBY yang pernah dibicarakan bersama Obama presiden AS tentang terorisme. Kalau sudah seperti ini, apakah sebagai presiden tidak tahu menahu bagaimana langkah demi langkah, tahapan demi tahapan yang akan dioperasikan institusi terkait yang notabene-nya semua dibawah kendali presiden? Bahkan kita yakin, target-target antara dan puncak target dari proyek kontra-terorisme SBY juga mengetahui. J ika tidak, maka SBY itu presiden atau anak buah siapa?

Ketiga; jika presiden SBY menyatakan kasus terorisme tidak ada relevansinya dengan persoalan politik atau tidak akan menggeret ke ranah politik. Lantas, kenapa juga membicarakan tentang motif “negara Islam” dan terancamnya “demokrasi” dalam konteks ini? Kelompok yang dicap teroris hendak mendirikan negara Islam, dan SBY sendiri memberikan prespektifnya bahwa wacana negara Islam bagi Indonesia sudah menjadi sejarah masa lalu? Begitu juga, tentang ancaman kelompok tersebut terhadap kelangsungan demokrasi, atau di sesi lain SBY menempatkan dirinya sebagai obyek yang terancam dan pernah mengkaitkan kelompok terorisme terhadap kelangsungan pemilu di tahun 2009. Ambigu bukan?atau mungkin ada tafsiran lain tentang politik versi presiden SBY?


Keempat; kalau SBY menjelaskan kasus ini adalah kejahatan dan tidak terkait dengan agama.Maka ada pertanyaan penting, kenapa SBY tidak pernah menegur insan media yang sedemikian rupa membangun opini dan persepsi masyarakat secara kontinyu dan simultan yang menstigmatisasi Islam dengan teroris? Contoh terbaru Upaya membangun stigma negatif terhadap Islam. Salah satunya tampak dari pemberitaan detik.com dengan judul : Penggerebekan Teroris di Bandung, Ditemukan Lembaran Kertas Arab Gundul Soal Hijrah dan Jihad. Detik.com (8/8) melaporkan dalam mobil milik Fahri, yang ditangkap Densus 88 karena diduga teroris, ditemukan ceceran kertas berisi tulisan arab gundul, antara lain soal kumpulan fatwa Ibnu Taimiyyah soal jihad, hijrah, dan dakwah. Lebih lanjut dilaporkan, ceceran kertas itu ada yang berupa tulisan tangan dan berupa print out, dengan beragam ukuran. Semua berisi tulisan arab gundul. Terdapat empat lembar kertas print out arab gundul merupakan kumpulan fatwa Ibnu Taimiyyah soal jihad, hijrah, dan dakwah.Hal ini merupakan upaya membangun citra negatif terhadap syariah Islam. Contoh lain, mantan PM Inggris Tony Blair, di hadapan Konggres Partai Buruh pernah menyatakan Islam sebagai ideologi iblis (BBC News, 16 Juli 2005) dengan ciri-ciri : (1) ingin mengeliminasi Israel ; (2) menjadikan syariat Islam sebagai sumber hukum ; (3) menegakkan khilafah ; (4) bertentang dengan nilai-nilai liberal.Hal senada direkomendasikan Cheryl Benard. Usulannya ada beberapa ide yang harus terus menerus diangkat untuk menjelekkan citra Islam : prihal demokrasi dan HAM, poligami, sanksi kriminal, keadilan Islam, minoritas, pakaian wanita, dan kebolehan suami untuk memukul istri. (Civil democratic Islam, partners , resources, and strategies, the Rand Corporation )

Dan apakah presiden SBY tidak pernah merasa adanya fakta pengkambing hitaman Islam dan kaum muslimin dalam persoalan ini? seharusnya SBY sadar, betapa umat Islam di Indonesia nyaris tidak bisa memberikan pembelaan, bahkan menerima kekalahan (apologis) dengan istilah teroris itu yang identik dengan; orang berjenggot, celana cingkrang, gamis, cadar, jidat hitam, orang yang sering aktif kemasjid, pengajian-pengajian kecil (usroh/halqoh/liqo’), pesantren, atau aktifis yang mengusung penegakkan syariat dalam koridor negara, atau ketika menempatkan AS adalah musuh Islam.Ini peran media, jelas-jelas mengkaitkan agama dengan isu teroris.Lebih jauh, kalau mau jujur, bukankah ketika pihak penegak hukum dan lebih khusus Den88 atau satgas anti teror lainya ketika melakukan pemetaan (maping) tentang ancaman baik dalam kontek global atau lokal (Indonesia) maka kesimpulanya adalah Islam sebagai ancaman?lebih spesifik Islam Ideologis, atau gerakan-gerakan dan kelompok-kelompok yang mengusung Islam sebagai ideologi. Lantas bagaimana bisa SBY mengatakan bahwa perkara terorisme tidak terkait agama? Sangat aneh bukan?


Kelima; di institusi yang terkait dengan proyek kontra-terorisme dibawah kementerian PolHukam terlihat paradigma yang dibangun ketika berbicara tentang terorisme selalu dikaitkan dengan pemahaman agama yang di anggap radikal dan fundamentalis. Karenanya perlu langkah-lengkah de-radikalisasi dengan beberapa strategi yang softh. Misalkan dengan mengarusutamakan tokoh-tokoh Islam moderat, menggalakkan interfaith dialog (dialog antar iman), diterbitkannya buku-buku yang moderat dan merubah kurikulum pesantren atau sekolah, masih banyak strategi lainya yang semuanya dianggap bisa mempertahankan format Indonesia yang pluralis, liberal, demokratis yang berdiri diatas ideologi kapitalis-sekuler. Maka bagaimana SBY menjelaskan ini semua? Rakyat semua ingat, sikap yang ditampilkan SBY dihadapan publik selama ini adalah mengedepankan dialog dalam menyelesaikan persoalan lantas bagaimana dengan persoalan teroris? Beranikah SBY dialog dan debat terbuka dengan kelompok-kelompok yang di cap radikal dan fundamentalis untuk bicara problem kenegaraan dan politik secara fair dalam rangka mencari solusi terbaik untuk Indonesia? Sehingga SBY dan jajaran dibawahnya tidak selalu su’udzan dengan apa yang diperjuangkan oleh kelompok tersebut.

Sekali lagi, wajar kalau akhirnya presiden SBY dianggap sangat ambigu dalam kasus “terorisme” ini atau bahkan terkesan mau “cuci tangan”. Semoga semua pemimpin institusi yang terlibat proyek kontra-terorisme itu kalau mereka orang muslim, maka masih tersisa iman dan Islamnya, hingga sadar tidak ada satupun perkataan yang keluar dari mulut mereka kecuali ada dua Malaikat yang mencatatnya dan hisab Allah SWT adalah seadil-adil hisab.umat Islam Indonesia butuh pemimpin yang bisa melindungi agama dan harga dirinya,dan bukan sebaliknya; pemimpin yang jadi “hamba” dari penguasa negara-negara kafir imperialis dan mendzalimi umatnya. Wallahu a’lam bisshowab.[]

8/16/2010 | Posted in | Read More »

Jadi Partai Terbuka, Kini PKS Dukung Wanita Nyalon Walikota


Tangerang Selatan (voa-islam.com) -Setelah resmi mengumumkan sebagai partai terbuka, kini Partai Keadilan Sejahtera (PKS) secara resmi memberikan dukungan kepada Airin Rachmi Diany dalam pencalonan sebagai Wali Kota dalam Pemilihan Kepala Daerah Tangerang Selatan, Banten.

Dukungan yang diberikan oleh PKS terhadap Airin Rachmi Diany merupakan yang pertama kali terjadi, dimana PKS memberikan dukungan kepada wanita untuk maju dalam Pilkada. Menurut Ketua DPD PKS Kota Tangeran Selatan, keputusan ini telah mendapatkan persetujuan dari Dewan Syariah Pusat PKS.

..."Keputusan PKS untuk mengusung wanita sebagai pemimpin sudah dapat persetujuan dari Dewan Syariah Pusat PKS" kata Ruhamaben...

"Keputusan PKS untuk mengusung wanita sebagai pemimpin sudah dapat persetujuan dari Dewan Syariah Pusat PKS. Jadi, itu yang menjadi pegangan kita untuk mengusung Airin sebagai bakal calon wali kota Tangerang Selatan," kata Ruhamaben usai acara deklarasi pasangan Airin-Benyamin Davnie di gedung Puspiptek Serpong.

Selain itu pengusungan terhadap Airin, hanya bersifat ditingkat daerah dan bukan nasional, sehingga hal itu bukan masalah bagi PKS. "Jadi kita tidak akan mendukung wanita menjadi pemimpin nasional," ucap Ruhamaben. Dirinya juga menambahkan PKS sebelumnya telah melakukan penjaringan internal dan eksternal untuk maju dalam Pilkada Tangerang Selatan.

Dari hasil penjaringan tersebut nama Airin yang menguat dan lebih dikenal masyarakat sehingga hal ini juga yang menjadi alasan PKS untuk mendukung Airin. "Airin memang bukan kader dari PKS, tetapi kita melihat Airin sudah dikenal publik. Jadi, dukungan publik yang akan memilih Airin lebih besar," paparnya.

Selain menurut Ketua DPD PKS ini telah membuat kontrak politik dengan Airin, jika nanti dirinya terpilih menjadi wali kota akan menciptakan pemerintahan yang bersih, peningkatan pelayanan publik dan memajukan bidang pendidikan serta mendukung dakwah Islam yang digalakkan PKS di Tangerang Selatan. Selain didukung PKS, delapan Parpol yakni Partai Demokrat, PKS, Golkar, PDI-P, PKB, PDS, PKPI, PPDI, juga mendukung adik ipar dari Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah ini. (Ibnudzar/inh)

8/16/2010 | Posted in | Read More »

FOTO: Seruan Khilafah Menggema dari Masjid Al-Aqsa di Jumat Pertama Ramadhan, 130.000 Jamaah Tumpah Ruah


Syabab.Com - Subhanallah, jumat pertama Ramadhan telah dijadikan sarana dakwah penegakkan Khilafah oleh Hizbut Tahrir di Masjid Al-Aqsa, Baitul Maqdis, Palestina. Sekalipun dalam tekanan penjajah Israel, sekitar 130.000 kaum Muslim, baik tua maupun wanita yang dapat masuk ke Masjid Al-Aqsa dari Tepi Barat tumpah ruah di Kompleks Masjid Al-Aqsa tersebut.

Tampak, panji-panji Rasulullah berkibar di sekeliling komplek Masjid Al-Aqsa. Sebuah spanduk besar pun terpasang sebagai sebuah seruan dari Masjid Al-Aqsa. "Al-Khilafah, Menegakkan Agama dan Menyatukan Kaum Muslim", demikian isi spanduk besar yang terpampang di gerbang antara Masjid Al-Aqsa dan Kubah Shakhrah.

Seruan Khilafah pun digelorakan baik di dalam Masjid maupun di halaman masjid. Seorang Syeikh memberikan pengajaran kepada kerumunan jamaah tentang Khilafah dan pentingnya penegakkan Khilafah sebagai kewajiban atas kaum Muslim menegakkannya. Khilafah pula yang dapat membebaskan Al-Aqsa dari cengkraman penjajah Israel.

Di awal-awal Ramadhan ini, kaum Muslim memenuhi kompleks Masjid Al-Aqsa lebih besar dalam sholat fajar dan sholat tarawih kemarin. Puluhan ribu jamaah memenuhi koridor Masjid Al-Aqsa.

Beberapa gerbang Masjid Al-Aqsa terjadi bentrokan antara para pemuda yang hendak memasuki Masjid dengan pasukan pendudukan yang mencegah mereka untuk memasuki area Masjid Al-Aqsa.

Teroris Israel telah menerapkan pembatasan bagi mereka yang berusia kurang dari 50 tahun untuk memasuki tempat suci ketiga bagi umat Islam ini.

Pihak polisi Israel menyatakan, jamaah yang boleh masuk ke kompleks masjid hanya jamaah lelaki yang usianya di atas 50 tahun dan jamaah perempuan yang usianya di atas 45 tahun.

Demikianlah, semua ini hanya mengingatkan kita pada sabda Nabi Muhammad Saw., "Akan senantiasa ada sekelompok orang dari umatku yang selalu menegakkan kebenaran dan mampu mengalahkan musuh-musuh mereka. Tidak memadaratkan mereka orang-orang yang menentang mereka, kecuali sekadar kesulitan hidup yang akan menimpa mereka, sampai datang kepada mereka keputusan Allah (Hari Kiamat), sementara mereka tetap dalam keadaan demikian.”

Para sahabat bertanya, ”Ya Rasulullah, di manakah mereka berada?” Rasulullah saw. menjawab, “Mereka berada di Baitul Maqdis (al-Quds) dan di sekitar Baitul Maqdis.” (HR. Ahmad dan ath-Thabrani)

Semoga seruan Khilafah ini didengar oleh kaum Muslim di seluruh dunia, dan kaum Muslim bergerak untuk menegakkan Khilafah sebagai pemersatu umat. Pada saat itulah, Khilafah akan membebaskan Al-Quds dan negeri-negeri Muslim lainnya dari cengkraman penjajah. Insya Allah, tak akan lama lagi! [m/f/arabbab/syabab.com]

8/16/2010 | Posted in | Read More »

Blog Archive

Recently Commented

Recently Added